Menjaga Hutan Kota Bonawang, menjaga udara bersih Kotamobagu

oleh -443 Dilihat
oleh

Tangkapan Manado – Di salah satu sudut Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat, terdapat sebuah ruang hijau yang tetap bertahan seperti oase di tengah pesatnya pertumbuhan kota. Tempat itu bernama Hutan Kota Bonawang, sebuah kawasan hijau seluas 4,39 hektar yang berfungsi sebagai paru-paru kota dan penyangga ekologis penting bagi masyarakat Kotamobagu.

Hutan kota ini bukan sekadar hamparan pepohonan. Ia adalah ruang hidup, ruang belajar, ruang rekreasi, serta ruang bernapas yang terus berjuang menghadapi tekanan urbanisasi yang semakin kuat. Di balik rimbunnya kanopi pohon dan jalur setapak yang membelah kawasan, tersimpan kisah panjang tentang pengelolaan, konflik kewenangan, nilai ekologis, hingga harapan warga terhadap masa depan ruang hijau Kotamobagu.

Kantong Hijau yang Bertahan di Tengah Kepungan Pemukiman

Secara geografis, Hutan Kota Bonawang menempati posisi yang strategis sekaligus rentan. Kawasan ini berada tepat di tengah pemukiman padat Mongkonai Barat, hanya sekitar 15 menit dari pusat Kota Kotamobagu. Di sisi selatan terdapat Terminal Bonawang yang selalu ramai oleh arus kendaraan dan mobil angkutan umum. Di bagian barat, jalan Trans Sulawesi membentang sebagai jalur utama yang hampir tak pernah tidur. Sementara dari arah utara dan timur, permukiman warga terus meluas seiring pertumbuhan kota.

Sekitar 600 hingga 800 meter dari lokasi hutan, berdiri sejumlah gudang dan bangunan usaha yang terus beroperasi sepanjang hari. Aktivitas warga yang beragam—mulai dari pedagang, transportasi, hingga industri kecil—menciptakan tekanan yang tidak kecil bagi keberlangsungan hutan ini. Dari atas, kawasan ini tampak seperti pulau hijau kecil yang dikepung lautan beton, berusaha tetap berdiri sebagai penyejuk dan penjaga keseimbangan lingkungan.

Keberadaannya sangat penting. Hutan Kota Bonawang menjadi penahan kebisingan alami, area penyangga polusi udara, sekaligus pengatur suhu mikro di Kotamobagu. Tanpa kawasan ini, suhu udara di Mongkonai dan sekitarnya bisa meningkat lebih cepat, terutama di tengah perubahan iklim dan tingginya konversi lahan.

Penelitian Membuktikan Peran Pentingnya

Dalam penelitian Analisis Pemanfaatan Hutan Kota di Kotamobagu oleh Paransi, Wuisang, dan Sangkertadi (2021), Hutan Kota Bonawang disebut sebagai salah satu elemen ekologis kunci dalam menjaga kualitas lingkungan hidup. Studi tersebut menunjukkan bahwa suhu udara di Kotamobagu terus meningkat signifikan dalam enam tahun terakhir.

  • Pada 2015, suhu udara berkisar 18–28°C.

  • Pada 2021, suhu melonjak menjadi 20,4–36,4°C.

Kenaikan ini mengindikasikan bahwa ruang hijau semakin krusial—dan kehilangan satu ruang hijau seperti Hutan Kota Bonawang dapat memperparah kondisi iklim mikro di perkotaan.

Di dalam hutan, terdapat berbagai jenis vegetasi yang berfungsi menyerap karbon, mencegah erosi, dan menjaga kelembapan tanah. Satwa kecil seperti burung, serangga penyerbuk, dan reptil kecil masih ditemukan di beberapa titik, menunjukkan bahwa kawasan ini tetap menjadi habitat alam yang bertahan meski berada di pusat permukiman.

Konflik Kewenangan dan Tantangan Pengelolaan

Di balik fungsinya yang sangat vital, Hutan Kota Bonawang tidak terlepas dari sejumlah permasalahan. Salah satunya adalah tumpang tindih kewenangan pengelolaan, yang sering terjadi antara pemerintah kelurahan, pemerintah kota, hingga dinas lingkungan hidup. Hal ini menyebabkan beberapa aspek penataan dan perawatan hutan tidak berjalan optimal.

Rumput yang mengering, sampah-sampah yang tersangkut di perakaran, hingga jalur setapak yang mulai rusak menjadi pemandangan yang muncul akibat kurangnya perawatan berkala. Padahal, masyarakat sekitar sangat bergantung pada hutan ini sebagai ruang rekreasi harian, tempat berolahraga pagi, hingga lokasi edukasi lingkungan untuk anak-anak sekolah.

Selain itu, ancaman alih fungsi lahan selalu membayangi kawasan seperti ini. Dengan pertumbuhan penduduk yang pesat dan kebutuhan lahan yang semakin besar, ruang hijau seringkali menjadi sasaran pelebaran kawasan permukiman atau pembangunan fasilitas baru. Kekhawatiran ini pernah muncul dalam diskusi warga dan pemerhati lingkungan, yang khawatir hutan kota ini lama-lama bisa tergerus.

Harapan Masyarakat dan Masa Depan Hutan Kota

Meski menghadapi berbagai tantangan, warga Mongkonai dan komunitas pegiat lingkungan tetap menaruh harapan besar agar Hutan Kota Bonawang dilestarikan, diperluas, dan dikelola dengan lebih profesional. Mereka mendorong adanya:

  • Zonasi konservasi yang lebih tegas

  • Program reboisasi rutin

  • Peningkatan fasilitas jalur setapak dan edukasi

  • Keterlibatan komunitas dalam pengawasan hutan kota

  • Penetapan status perlindungan jangka panjang

Beberapa warga bahkan mengusulkan agar kawasan ini dijadikan pusat pendidikan lingkungan terpadu atau ruang publik hijau yang ramah keluarga, namun tetap menjaga prinsip konservasi.

Penutup

Hutan Kota Bonawang bukan hanya ruang hijau biasa—ia adalah saksi sejarah, tempat masyarakat bernafas, dan benteng terakhir ekologis di kawasan Mongkonai Barat. Di tengah tekanan urbanisasi yang semakin kuat, keberadaannya menjadi semakin penting. Merawatnya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif seluruh warga Kotamobagu.

Jika kawasan ini hilang, maka hilang pula salah satu identitas ekologis penting kota, dan hilang pula ruang hidup bagi manusia maupun satwa yang masih bertahan.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.