
Longsor di Kota Manado Tewaskan Dua Warga, BPBD dan Warga Siaga Hadapi Risiko Bencana Alam
Tangkapan Manado – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Manado, Sulawesi Utara, melaporkan dua warga meninggal dunia akibat tertimbun material longsor yang terjadi di kawasan permukiman padat di kota tersebut. Informasi ini disampaikan berdasarkan data terkini BPBD Kota Manado pada Minggu, 23 Maret 2025.
Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Manado, Angelina July Bajodo, korban meninggal adalah:
-
Arnold Mamahit, warga Kelurahan Malendeng, Lingkungan Enam, berumur 76 tahun, dan
-
Novianti Kipiodo, warga Kelurahan Bailang, Lingkungan Empat, berumur 11 tahun.
Kronologi Kejadian
Peristiwa longsor yang menelan korban ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Kota Manado sejak sore hingga malam hari, mengakibatkan tanah di permukiman yang berada di lereng atau area rawan longsor menjadi labil dan rentan runtuh.
-
Arnold Mamahit dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan material bangunan akibat longsor. Korban diperkirakan tidak sempat menyelamatkan diri karena longsor terjadi secara tiba-tiba. Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan lokal segera melakukan evakuasi untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan.
-
Sementara itu, Novianti Kipiodo berada di dapur bersama neneknya pada malam tanggal 22 Maret 2025 pukul 19.00 Wita ketika tanah di sekitar rumah mulai bergerak. Longsoran material bangunan dan tanah menimpa area tersebut secara mendadak. Meskipun nenek korban berhasil menyelamatkan diri, Novianti tertimbun dan meninggal di tempat sebelum sempat dievakuasi.
Dampak Material dan Sosial
Selain menelan korban jiwa, longsor ini juga mengakibatkan kerusakan material signifikan pada rumah-rumah warga, jalan akses, dan fasilitas publik di sekitar lokasi. Banyak rumah yang mengalami retakan serius, sementara beberapa bagian rumah mengalami kerusakan parah sehingga tidak layak huni.
Warga sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut mengaku terkejut dan ketakutan. “Kami sangat terpukul karena kedua korban adalah tetangga dan keluarga kami sendiri. Longsor datang begitu cepat, sehingga tidak sempat menyelamatkan anak itu,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Upaya Penanganan oleh BPBD dan Tim Gabungan
BPBD Kota Manado, bekerja sama dengan TNI, Polri, dan relawan masyarakat, langsung mengevakuasi korban dan membersihkan reruntuhan material longsor. Tim SAR juga melakukan pendataan warga yang berada di zona rawan longsor, memberikan peringatan dini, serta menyiapkan posko evakuasi darurat bagi warga yang rumahnya terancam longsor.
Selain itu, tim teknis BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melakukan pemeriksaan kestabilan lereng dan pemasangan terpal serta bronjong darurat untuk mencegah longsor susulan. Pemerintah kota juga menyiapkan bantuan logistik dan medis bagi korban terdampak serta program relokasi sementara bagi warga yang rumahnya tidak aman.
Pernyataan Pihak Berwenang
Angelina July Bajodo menegaskan bahwa kejadian ini merupakan peringatan bagi seluruh warga Manado, khususnya yang tinggal di daerah rawan longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan saat hujan deras atau hujan berkepanjangan. “Kami imbau masyarakat selalu memperhatikan tanda-tanda longsor, melaporkan retakan tanah atau lereng yang labil, dan memprioritaskan keselamatan keluarga. Kesiapsiagaan warga adalah bagian penting dari mitigasi bencana,” ujarnya.
Wali Kota Manado juga mengeluarkan instruksi agar seluruh perangkat kelurahan dan kecamatan melakukan sosialisasi darurat, melakukan pengecekan rumah warga, serta menyiapkan jalur evakuasi. Selain itu, Pemerintah Kota Manado berencana melakukan perkuatan lereng dan normalisasi saluran air di titik-titik rawan longsor untuk mencegah bencana serupa terjadi di masa mendatang.
Pentingnya Kesiapsiagaan dan Edukasi Bencana
Peristiwa ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana alam merupakan tanggung jawab bersama, baik aparat pemerintah, masyarakat, maupun pihak swasta. Edukasi tentang mitigasi bencana, sistem peringatan dini, serta langkah-langkah evakuasi darurat harus terus dilakukan untuk mengurangi risiko korban jiwa di masa depan.
BPBD Kota Manado menyarankan warga untuk selalu menyimpan nomor darurat, membuat rencana evakuasi keluarga, dan mengamankan benda-benda berat di rumah yang bisa membahayakan saat longsor terjadi. Hal ini menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana alam, terutama di kota yang rawan hujan deras dan longsor seperti Manado.
Kesimpulan
Longsor yang menewaskan Arnold Mamahit dan Novianti Kipiodo menjadi pengingat serius akan kerentanan kawasan permukiman terhadap bencana alam. Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat menjadi kunci untuk menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerugian material.
Dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat, edukasi bencana yang berkelanjutan, serta koordinasi cepat antar lembaga, diharapkan Kota Manado dapat menghadapi musim hujan dan potensi bencana alam dengan kesiapsiagaan maksimal pada tahun-tahun mendatang.




