Demo di Kantor DPRD Sulut Sempat Memanas, Massa Lempar Botol ke Aparat

Tanggapan Manado – Aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Sulawesi Utara (Sulut) pada Senin (29/9/2025) siang berlangsung ricuh setelah massa pendemo terlibat ketegangan dengan aparat keamanan. Demonstrasi yang awalnya berjalan damai berubah memanas ketika sejumlah peserta aksi mulai melemparkan botol air mineral ke arah aparat kepolisian yang berjaga di lokasi.
Menurut pantauan di lapangan, kericuhan dipicu ketidakpuasan massa terhadap sikap anggota DPRD yang dinilai lambat dalam menanggapi aspirasi mereka. Massa mendesak agar pimpinan DPRD Sulut segera keluar menemui pengunjuk rasa dan memberikan penjelasan terkait tuntutan yang diajukan. Namun, karena belum juga direspons, emosi massa tidak terkendali.
Sejumlah aparat yang berjaga di pintu masuk utama kantor DPRD terlihat berusaha menenangkan massa. Polisi kemudian membentuk barikade untuk mengantisipasi situasi agar tidak semakin meluas. Meski terjadi pelemparan botol, aparat keamanan menahan diri dan tidak melakukan tindakan represif.
Baca Juga : Menuju Pendidikan Berkualitas untuk Anak-Anak Kurang Mampu
Kapolresta Manado Kombes Pol (nama pejabat) yang hadir langsung di lokasi menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen menjaga jalannya aksi agar tetap kondusif. “Kami menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Namun, kami juga mengimbau agar penyampaian aspirasi dilakukan secara tertib, tidak merusak fasilitas, dan tidak mencederai orang lain,” tegasnya.
Aksi demonstrasi tersebut diikuti ratusan orang yang menamakan diri sebagai aliansi masyarakat sipil Sulut. Mereka membawa sejumlah poster dan spanduk bertuliskan tuntutan terkait isu kebijakan pemerintah daerah dan dugaan praktik ketidakadilan dalam pengambilan keputusan di DPRD.
Meski sempat terjadi kericuhan, situasi akhirnya dapat dikendalikan setelah perwakilan DPRD Sulut bersedia menerima delegasi massa untuk berdialog di dalam gedung. Pertemuan tersebut berlangsung tertutup, sementara di luar gedung aparat tetap berjaga untuk mengantisipasi potensi bentrokan susulan.
Peristiwa ini menambah catatan panjang dinamika politik dan sosial di Sulawesi Utara, di mana masyarakat kerap menggunakan demonstrasi sebagai sarana menyalurkan aspirasi. Ke depan, aparat kepolisian berjanji akan memperketat pengamanan setiap aksi, sembari mengimbau agar masyarakat tetap mengedepankan cara-cara damai dalam menyuarakan pendapat.



